
Pelapis, Januari 2025 – Harapan baru peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan tumbuh di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Masyarakat yang umumnya bergantung pada hasil laut berhasil melakukan budidaya ikan air tawar jenis lele. Pada panen perdana yang dilakukan awal Januari 2026, sebanyak 700 Kilogram ikan lele dihasilkan dari empat kolam terpal yang dikelola kelompok budidaya masyarakat di tiga dusun di Desa Pelapis. Kegiatan panen disambut antusias oleh warga dan menjadi tonggak awal keberhasilan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
Program budidaya ikan air tawar tersebut merupakan bagian dari program Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang dijalankan oleh PT Dharma Inti Bersama (DIB) pengelola Kawasan Industri Pulau Penegang (KIPP), bekerja sama dengan masyarakat Desa Pelapis. Program ini dirancang sebagai alternatif mata pencaharian bagi nelayan yang selama ini sangat bergantung pada hasil laut dan kondisi cuaca.
Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Desa Pelapis, Suaka, warga RT 3 Dusun Kelawar, menyampaikan rasa terima kasihnya atas pendampingan dan dukungan perusahaan. Ia mengatakan bahwa keberhasilan panen perdana ini membuktikan masyarakat nelayan mampu mengembangkan usaha perikanan darat meski berada di wilayah pesisir dan kepulauan. Selain menambah penghasilan, budidaya ikan lele dinilai lebih stabil dan berkelanjutan. “Program ini memberi harapan baru. Saat cuaca tidak memungkinkan untuk melaut, budidaya ikan air tawar bisa menjadi sumber pendapatan alternatif,” katanya.
Suaka juga bercerita bahwa perjalanan menuju panen perdana tidak selalu mulus. Tantangan seperti kualitas air dan penyakit ikan sempat mereka hadapi. Namun, dengan pendampingan rutin tenaga lapangan dari Perusahaan, mulai dari pemantauan kualitas air hingga pengaturan pakan, kendala-kendala tersebut dapat diatasi. “Waktu paling menyenangkan itu saat memberi pakan ikan,” tuturnya sambil tersenyum. “Kadang airnya kurang bagus, ada ikan yang sakit, tapi alhamdulillah hanya satu dua saja.”
Panen perdana ini turut dihadiri unsur pemerintah daerah, di antaranya perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan serta pihak kecamatan. Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, mengakui bahwa mengubah pola pikir masyarakat nelayan tangkap bukan perkara mudah. Namun ia bersyukur pendekatan bertahap yang dilakukan perusahaan akhirnya membuahkan hasil. “Alhamdulillah, hasil budidaya ikan air tawar ini bagus,” ujarnya.
Menurut Mikrad, keberhasilan ini membuka peluang besar ke depan. Budidaya lele dapat menjadi penyangga ekonomi rumah tangga nelayan, terutama saat cuaca laut tidak bersahabat. Ia optimistis, jika dikelola secara serius, usaha yang saat ini masih bersifat sampingan dapat berkembang menjadi andalan perekonomian rumah tangga warga.
Apresiasi juga disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kayong Utara, Hendra, yang hadir langsung menyaksikan panen perdana tersebut. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. “Pemerintah daerah akan terus memperjuangkan masyarakat nelayan. Program Kampung Nelayan Merah Putih akan terus kami dorong,” ujarnya. Hendra menilai Desa Pelapis memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain, yakni kepastian pasar. “Di Pelapis, yang membeli hasil panen sudah ada. Tinggal kesiapan masyarakatnya,” katanya. Ia juga mendorong agar budidaya ikan air tawar ini dikembangkan lebih jauh, tidak hanya pada tahap pembesaran, tetapi hingga pembibitan dan pembuatan pakan mandiri, sehingga rantai nilai ekonomi semakin panjang dan manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.
Government Relation Manager PT Dharma Inti Bersama, Seno Ario Wibowo, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya, “Ini saatnya kita merasakan jerih payah bersama dalam mengembangkan budidaya lele yang alhamdulillah berhasil,” ujarnya. Seno menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama pada musim paceklik. “Tidak perlu khawatir hasil panen akan dikemanakan. Perusahaan berkomitmen membantu sepenuhnya dan menyerap hasil panen ikan lele,” tegasnya.
Ia juga memaparkan rencana inovasi pengolahan hasil panen. Berdasarkan masukan tenaga ahli dari IPB, ikan lele akan dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan, mengingat keterbatasan fasilitas penyimpanan ikan segar di pulau. Ke depan, ibu-ibu di Desa Pelapis akan dilibatkan dalam proses marinasi dan pengemasan vakum, sehingga membuka peluang ekonomi baru di tingkat rumah tangga.
Panen perdana ini bukan sekadar keberhasilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri kolektif masyarakat. Dari kolam terpal sederhana di Dusun Kelawar, warga Pelapis belajar bahwa perubahan memang membutuhkan proses, dan mungkin mungkin jika dijalani bersama.
Sebagai penutup, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kayong Utara, Hendra melantunkan pantun yang disambut senyum dan tepuk tangan warga:
Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.
Kalau sudah budi daya lele ini menguntungkan, kenapa tidak kita coba lagi.