
Di balik julukan “Kota Ale-Ale”, tersimpan legenda kuno tentang sebuah pohon raksasa, masyarakat yang hidup di bawah bayangannya, dan keajaiban yang membentuk lanskap Ketapang hingga hari ini.
Konon, dulu berdiri sebuah pohon super besar bernama Pohon Ketapang. Ukurannya luar biasa—rerimbunannya menutupi seluruh perkampungan dari hulu hingga hilir. Saking lebarnya, cahaya matahari tidak pernah menyentuh tanah. Akibatnya, kehidupan masyarakat terganggu yaitu padi tidak tumbuh, pakaian tidak pernah kering, bahkan masyarakat sakit beri-beri karena kurang sinar matahari.Pohon yang dulu memberi perlindungan justru berubah menjadi sumber masalah.
Karena kewalahan, warga berusaha menebang pohon itu—butuh kekuatan besar, tetapi pohon selalu kembali seperti semula. Hingga suatu malam, seorang warga mendapat wangsit: “Kalian tidak akan bisa menebang pohon itu hanya dengan besi. Tempa sebuah kapak perak bila ingin menjatuhkannya.
Warga mengikuti pesan tersebut. Ajaibnya, kapak perak itu berhasil menjatuhkan si pohon raksasa.Saat pohon tumbang, terjadi keajaiban yang tak pernah dibayangkan yaitu pohon raksasa itu hilang begitu saja, seolah ditelan bumi.
Perwujudannya berubah menjadi Sungai Pawan, sungai besar yang kini membentang dari hulu hingga hilir.Sementara buah pohon Ketapang berubah menjadi hewan kerang, yang kini dikenal sebagai ale-ale.
Namun ada penyesalan. Tanpa naungan pohon besar itu, kulit masyarakat menjadi gelap oleh matahari, dan mereka kehilangan perlindungan alami yang selama ini menaungi desa. Sejak saat itu, wilayah tersebut dinamakan Ketapang, sebagai penanda sejarah dan pelajaran.
Hingga kini, ale-ale bukan sekadar kerang, tetapi simbol budaya yang melekat di hati masyarakat. Tugu Ale-Ale yang berdiri ikonik di kota menjadi pengingat bahwa Ketapang dibangun atas persatuan berbagai etnis dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi