
Sebanyak 16 mahasiswa menerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB) pada September lalu. DIB merupakan perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Dari jumlah tersebut, empat penerima beasiswa berasal dari Desa Pelapis, yakni Claudia, Tira, Florencia, dan Gilang—anak-anak muda dari wilayah kepulauan dengan keterbatasan akses pendidikan.
Tumbuh di kawasan kepulauan membuat perjalanan pendidikan mereka penuh tantangan. Untuk menempuh bangku sekolah menengah atas saja, mereka harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga. Tantangan yang sama kembali dihadapi saat memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi—sebuah pilihan yang menuntut keberanian, ketekunan, dan pengorbanan besar.
Akses transportasi yang terbatas, kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada hasil laut dan musim ikan, hingga jarak yang jauh dari pusat pendidikan tidak menyurutkan langkah mereka. Keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci masa depan menjadi kekuatan utama untuk menembus berbagai keterbatasan tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat yang dirilis awal November 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Kayong Utara tercatat sebesar 67,60, masih berada di posisi terbawah dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Meski demikian, angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 67,05, menandai adanya pergerakan positif dalam pembangunan sumber daya manusia.
Dalam konteks pendidikan, kisah Claudia, Tira, Florencia, dan Gilang menjadi cerminan perjuangan masyarakat kepulauan dalam meningkatkan kualitas hidup. Mereka tidak hanya berjuang untuk masa depan pribadi, tetapi juga membawa harapan bagi keluarga dan lingkungan asalnya sebagai agen perubahan di daerah.
Program beasiswa yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama PT DIB menjadi titik balik penting dalam perjalanan mereka. Bantuan ini meringankan beban biaya pendidikan, tempat tinggal, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Dampaknya dirasakan langsung oleh keluarga penerima, yang kini dapat bekerja lebih tenang, sementara para mahasiswa dapat lebih fokus menata masa depan.
Seiring perjalanan kuliah, arah mimpi keempat penerima beasiswa pun semakin jelas.

Claudia Renanda, mahasiswa Biologi di Universitas OSO, bercita-cita menjadi peneliti laut. Ketertarikannya pada potensi wilayah pesisir mendorong keinginannya untuk berkontribusi langsung bagi Desa Pelapis, termasuk dalam upaya penyediaan air bersih.

Sementara itu, Tira yang menempuh pendidikan Akuntansi di Universitas Tanjungpura (Untan) berharap dapat berkarier di instansi pemerintah atau perusahaan multinasional. Ia akan menjadi sarjana pertama di keluarganya dan ingin membawa perubahan bagi masa depan keluarganya.

Florencia Oktoria Ramadhani memandang pendidikan sebagai jendela untuk melihat dunia yang lebih luas. Ia bercita-cita melanjutkan studi ke jenjang S2, bahkan ke luar negeri, serta membangun usaha sendiri sebagai wujud kemandirian ekonomi.

Adapun Gilang Ramadan, mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, berharap dapat menjadi engineer yang sukses. Mimpinya sederhana namun bermakna: membanggakan orang tua dan suatu hari memberangkatkan mereka menunaikan ibadah haji.
Meski memiliki cita-cita yang berbeda, keempatnya dipersatukan oleh semangat yang sama—membahagiakan orang tua, membuka peluang kehidupan yang lebih baik, serta membawa perubahan positif bagi Kayong Utara, khususnya Desa Pelapis.
Melalui program beasiswa ini, PT Dharma Inti Bersama bersama pemerintah daerah berupaya memperluas akses pendidikan dan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sinergi antara sektor swasta dan pemerintah diharapkan mampu melahirkan lebih banyak generasi muda Pelapis yang siap berkontribusi dalam pembangunan daerah dan masa depan Kayong Utara.