
Rumah panjang atau betang merupakan salah satu keajaiban arsitektur tradisional Suku Dayak di Kalimantan. Uniknya, rumah ini dibangun tanpa menggunakan satu pun paku besi. Meski begitu, bangunannya kokoh dan bisa bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Kekuatan rumah panjang terletak pada teknik sambungan kayu tradisional. Setiap bagian kayu disatukan dengan sistem pasak, takikan, dan ikatan alami yang saling mengunci. Jenis kayu yang digunakan biasanya kayu ulin atau belian, terkenal tahan air, rayap, dan sangat kuat. Teknik ini diwariskan turun-temurun oleh para tukang adat Dayak.
Selain fungsi teknisnya, rumah panjang juga memiliki makna sosial dan budaya. Rumah ini dihuni oleh banyak keluarga yang hidup berdampingan dalam satu bangunan besar. Bagian depan rumah digunakan untuk upacara adat, pertemuan warga, dan penyambutan tamu.
Di Ketapang, beberapa desa masih menjaga keberadaan rumah panjang, seperti di kawasan Payakumang dan Desa Kedondong. Bangunan ini kini juga menjadi daya tarik wisata budaya, memperkenalkan kearifan lokal Dayak kepada generasi muda dan pengunjung.
Rumah panjang bukan hanya simbol tempat tinggal, tetapi juga simbol kebersamaan dan ketangguhan masyarakat Dayak. Dari kayu yang saling mengunci tanpa paku, tersimpan filosofi kehidupan: kuat karena saling terhubung