
Diantara gugusan pulau di Kepulauan Karimata, terletak Pulau Penebang yang kini bersolek menjadi kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN), menyimpan asa dan cerita dalam perkembangannya.
Pagi di Pulau Penebang dimulai dengan ritme khas; sunyi yang perlahan pecah oleh langkah kaki, bunyi peralatan dapur, dan percakapan ringan. Di tengah aktivitas kawasan yang berkembang sebagai Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di bawah pengelolaan PT Dharma Inti Bersama (DIB), hadir perempuan-perempuan tangguh yang tidak hanya menggerakkan aktivitas, tetapi juga menjadikan pulau ini sebagai ruang tumbuh yang menumbuhkan harapan.
Yulita, Bekerja Untuk Anak–Anak
Di bagian dapur, Ibu Yulita memulai harinya dengan tangan yang tak pernah berhenti bergerak. Bersama timnya, ia menyiapkan bahan makanan dalam jumlah besar, bahkan hingga dua ton sayuran setiap hari.
Sebagai ibu tunggal dengan empat anak, setiap hari kerja adalah bagian dari perjuangannya memastikan masa depan keluarga tetap berjalan. Dari penghasilannya, Yulita tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membiayai pendidikan anak nya hingga Sarjana dan menyiapkan bekal untuk dirinya di masa tua.
“Kalau bisa hidup anak-anak harus lebih enak daripada ibunya,” ujarnya.
Atik, Dari Juru Masak Warung Ke Proyek
Di dapur yang sama, Ibu Atik menjalani kisahnya sendiri. Dengan ketelatenan, ia menyiapkan bumbu dan memotong bahan dalam jumlah besar setiap hari.
Kecintaannya pada memasak sudah ada sejak lama, bahkan ia pernah membuka warung kecil di Pontianak. Kini, di Pulau Penebang, ia menemukan ruang untuk menyalurkan hobi sekaligus mendapatkan penghasilan yang lebih stabil.
Bagi Atik, perubahan ini membawa ketenangan. Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari lingkungan kerja yang hangat. “Teman-temannya baik, jadi betah,” katanya. Kebersamaan di luar jam kerja, berbagi cerita, senam, atau sekadar bercanda, menjadi penguat di tengah rutinitas.
Evi, Dikuatkan oleh Lingkungan yang Mendukung
Evi, warga asli Sukadana, memutuskan untuk bekerja di Pulau Penebang saat peluang itu terbuka. Sebagai ibu dengan tiga anak, ia menjalani peran sebagai pencari nafkah dengan penuh tanggung jawab setelah ditinggal suami.
Selain dukungan fasilitas kerja yang memadai, Evi juga merasakan kuatnya rasa kebersamaan di lingkungan kerja. Rekan kerja bukan sekadar kolega, tetapi menjadi komunitas yang saling mendukung dalam menjalani keseharian.
“Iyaa pasti sangat terbantu dari segi ekonomi. Karena semuanya ditanggung di sini, dari tempat tinggal, makanan, transport,” kata Evi.
Lingkungan yang positif ini membuat Evi merasa tidak sendiri. Ia pun semakin bersemangat untuk bekerja dan menabung demi masa depan pendidikan anak-anaknya.
Sulastri, Kisah Banting Stir Sang Guru Honorer
Jarak Pulau Penebang dengan Desa Pelapis sekira 30 menit perjalanan, membuat Sulastri memutuskan meninggalkan pekerjaan sebagai guru honorer dan menjadi tim packing untuk makanan para pekerja proyek. Sulastri dengan bangga mengatakan gaji yang didapatkan telah membuka kesempatannya bersekolah di Universitas Terbuka.
Meski belum berkeluarga, Sulastri tetap menyisihkan pendapatannya untuk adik-adiknya. “Sekarang bisa bantu keluarga, bisa kuliah, dan bisa nabung,” ujar Sulastri.
Dari berbagai cerita ini, terlihat jelas bahwa perempuan memegang peran penting di Pulau Penebang. Mereka bukan hanya bagian dari operasional, tetapi juga pencipta suasana kerja yang hangat dan saling mendukung.
Dalam peran-peran tersebut, kontribusi mereka melampaui ruang domestik. Perempuan-perempuan ini turut menjadi bagian dari penggerak pertumbuhan Kabupaten Kayong Utara melalui keterlibatan aktif dalam mendukung operasional di Pulau Penebang. Pulau Penebang pun menjadi ruang tumbuh—tempat di mana perempuan tidak hanya bekerja, tetapi juga memperjuangkan masa depan. Dari dapur hingga kehidupan sehari-hari, mereka menjaga harapan tetap hidup, hari ini dan untuk hari esok yang lebih baik