
KAYONG UTARA — Seorang putra asli Kayong Utara, datang tanpa pengalaman kerja di dunia industri, kini justru dipercaya mengemban peran strategis di Kawasan Industri Pulau Penebang. Ia duduk di kursi rekrutmen, ikut menentukan siapa saja yang layak diterima bekerja di kawasan. Nama itu Husen Basri.
Menariknya, jalannya tidak dimulai dari meja rekrutmen, melainkan dari dapur. Di antara panci dan kompor, tak banyak yang mengira seorang asisten chef sedang diam-diam merancang masa depannya. Husen tidak sekadar membantu memasak. Ia mendengar, mengamati, dan berkenalan. Dari situlah, tanpa ia rencanakan betul, jalan menuju peran strategis di tim rekrutmen mulai terbuka.
Memilih Pulang ke Kayong Utara
Husen adalah putra asli Kabupaten Kayong Utara. Ketika kawasan industri di kampung halamannya mulai membuka lowongan, ia sebenarnya masih bekerja di Malang. Namun panggilan orang tua dan peluang di tanah sendiri membuatnya mantap pulang. Ia melamar, diterima sebagai tim support , dan memulai semuanya dari titik paling dasar.
Penempatan pertamanya jauh dari urusan sumber daya manusia. Husen ditugaskan sebagai kru logistik di area jetty, mengurus distribusi bahan bakar untuk para operator di lapangan. Tak lama berselang, ia dipindah ke bagian dapur sebagai asisten chef. Bagi sebagian orang, perpindahan seperti itu mungkin terasa seperti langkah mundur. Tapi Husen memilih memandangnya sebagai kesempatan.
Kemauan Berbaur yang Mengubah Arah
“Saya lebih banyak cari relasi dan pengalaman. Sebenarnya saya belum tahu dunia kerja di sini seperti apa. Saya ingin punya relasi dengan orang-orang yang berpengalaman, tahu sistem kerja, lapangannya seperti apa,” ujarnya.
Kemauan berbaur itulah yang kemudian mengubah arah. Selama kurang lebih dua bulan di dapur, Husen tak berhenti membangun relasi. Salah satunya dengan Pak Mars dari tim HRD. Obrolan ringan soal dunia kerja kian sering, sampai suatu saat muncul satu pertanyaan sederhana soal latar belakang pendidikannya. Husen menjawab jujur, ia lulusan Ekonomi Manajemen dengan konsentrasi Sumber Daya Manusia dari Universitas Tribuana Tunggadewi (Unitri) Malang, hasil program beasiswa Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara.

Belajar dari Nol di Tim HRD
Jawaban itu membuka pintu. Tak lama, Husen dipanggil bergabung ke tim HRD, mula-mula sebagai trainer sekaligus staf administrasi rekrutmen. Di sinilah konsistensinya benar-benar diuji. Ia belajar seluruh alur kerja dari nol: menyusun kontrak, mengatur kedatangan karyawan, mendaftarkan medical check up, hingga mengurus administrasi lainnya, Ia juga mendampingi karyawan sejak pertama datang, memberikan pembekalan mengenai perusahaan hingga karyawan siap untuk bekerja.
Ilmu kuliah yang dulu sempat terasa tak terpakai perlahan menemukan tempatnya. “Mungkin karena sistem kerjanya saya sudah mengerti, alurnya seperti apa. Saya belajar dari admin dulu,” katanya. Ketekunan itu berbuah manis. Pada April tahun ini, Husen resmi dipercaya mengemban peran sebagai rekruter, orang yang kini justru membuka pintu bagi para pelamar lain.
Setiap Langkah Punya Arti
Sebelum semua ini, jalan Husen memang berkelok. Selepas kuliah, ia sempat sepuluh bulan menjadi barista di sebuah kafe di Malang, pekerjaan yang ia dapat dari seorang kenalan yang baik kepadanya. Dari balik meja kopi itu ia belajar melayani pelanggan, tekun, dan disiplin. Pengalaman yang, disadari atau tidak, ikut membentuk cara kerjanya hari ini.
Kisah Husen adalah pengingat bahwa tak ada peran yang sia-sia bila dijalani sepenuh hati. Dari jetty, dapur, hingga meja rekrutmen, benang merahnya satu: kemauan untuk berbaur, belajar, dan terus melangkah. Bagi putra Kayong Utara ini, setiap langkah kecil selalu punya arti, asal dijalani dengan konsisten.
Baca juga:
Cerita Perempuan Tangguh; Bekerja, Bertumbuh, dan Menjaga Harapan