
Di tengah barisan puluhan satuan pengamanan laki-laki di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), berdiri satu sosok yang mencuri perhatian: Eni Andriani. Di usia 19 tahun, perempuan asal Sukadana, Kayong Utara ini menjadi salah satu dari hanya empat perempuan, bahkan yang pertama, yang bertugas sebagai satpam perempuan di kawasan tersebut.
Pilihan ini bukan tanpa tantangan. Di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki, Eni sempat diremehkan dan diragukan kemampuannya. Namun, ia memilih untuk tidak mundur. Dengan disiplin dan konsistensi, ia membuktikan bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh gender. Setiap hari, ia menjalani rutinitas yang menuntut ketahanan fisik dan mental, mulai dari apel pagi, latihan fisik, hingga mengawasi aktivitas keluar-masuk kawasan serta menjaga ketertiban operasional.
Latar belakangnya sebagai lulusan SMK Perhotelan tidak membuat Eni ragu menempuh jalur yang berbeda dari teman-temannya. Ketertarikannya pada pekerjaan yang dinamis, ditambah hobinya di bidang olahraga khususnya sepak bola sejak sekolah, mendorongnya memilih profesi ini. Keputusan tersebut bahkan berawal dari hal sederhana, sebuah video pelatihan satpam yang ia lihat di media sosial. Dari rasa penasaran, tumbuh keberanian untuk mencoba, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mendaftar pelatihan satpam, di mana ia menjadi satu-satunya perempuan di antara 50 peserta laki-laki.
Bagi Eni, menjadi satpam bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk kontribusi nyata untuk memberikan rasa aman bagi orang lain.
Bekerja di Kawasan Industri Pulau Penebang juga memberinya kebanggaan tersendiri. Sebagai pemudi lokal asal Kayong Utara, Eni merasa dapat berkontribusi langsung terhadap perkembangan daerahnya. Kehadiran kawasan industri ini membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat sekitar, sekaligus mendorong generasi muda untuk berkembang dan berdaya saing.
Dibalik kesibukannya, Eni terus menata masa depan. Penghasilannya digunakan untuk melanjutkan pendidikan S1 Manajemen di Universitas Terbuka, dengan cita-cita berkarir di bidang administrasi perkantoran.
Kisah Eni menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang manusia yang tumbuh bersamanya. Dengan keberanian, kerja keras, dan kepercayaan diri, ia menunjukkan bahwa perempuan mampu berdiri sejajar. bahkan bersaing, sekaligus berkontribusi bagi masa depan daerahnya.