
Tim peneliti FMIPA Universitas Tanjungpura (Untan) memasang perangkat pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT) di dua titik di Kabupaten Ketapang — Desa Tanjung Baik Budi, Kecamatan Matan Hilir Utara pada Sabtu (3/10/2026) dan Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan pada Minggu (4/10/2026). Perangkat ini dirancang untuk mendeteksi kondisi lingkungan yang berkaitan dengan potensi karhutla.
Sensor Canggih, Update Setiap 15 Menit
Peneliti Program Studi Matematika FMIPA Untan, Nur’ainul Miftahul Huda, menjelaskan bahwa perangkat dilengkapi sejumlah sensor — anemometer untuk kecepatan angin, sensor gas/asap MQ2, sensor suhu dan kelembapan, serta sensor curah hujan. Data diperbarui secara otomatis setiap 15 menit dan satu perangkat dapat mendeteksi kondisi lingkungan hingga radius 10 kilometer.
Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pemodelan spasial-temporal untuk membaca pola perubahan lingkungan dan menyusun prediksi potensi karhutla. Ketua Jurusan Rekayasa Sistem Komputer, Rahmi Hidayati, menambahkan bahwa hasil pemantauan digunakan untuk menentukan indikator kondisi lingkungan — aman, siaga, atau waspada.
“Perangkat ini menggunakan panel surya sebagai sumber energi dan jaringan 4G untuk mengirimkan data,” ujarnya. Data aktual dan prediksi dapat diakses masyarakat melalui laman siagaapi.cloud.
Titik Ketujuh dalam Ekspedisi Riset Kalbar
Pemasangan di Ketapang merupakan titik ketujuh dan terakhir dalam rangkaian ekspedisi riset yang didukung BRIN dan LPDP. Sebelumnya perangkat serupa telah dipasang di Pontianak, Landak, Kubu Raya, Sekadau, dan Sanggau.
Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir menyambut baik kehadiran teknologi ini dan berharap dapat dikembangkan ke seluruh kecamatan di Ketapang.
“Mudah-mudahan dengan alat ini kita dapat mengetahui secara dini kebakaran yang terjadi di Kabupaten Ketapang. Minimal 20 kecamatan se-Kabupaten Ketapang. Kami siap demi kemaslahatan masyarakat,” ujar Jamhuri.
Baca juga:
Menembus Batas Pulau, Harapan Baru Anak-Anak Pelapis