
Pontianak – Ekonomi Provinsi Kalimantan Barat pada Triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan sebesar 6,14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), tertinggi di Pulau Kalimantan dan melampaui rata-rata nasional.
Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi indikator positif atas penguatan investasi, hilirisasi sumber daya alam, serta peningkatan efisiensi logistik yang terus didorong Pemerintah Provinsi Kalbar di bawah kepemimpinan Gubernur Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan.
“Pertumbuhan ini merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak dalam mendorong investasi, pengembangan industri hilir, dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Ria Norsan di Pontianak, Sabtu.
Ia menyebut, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, investor, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan porsi 49,22 persen terhadap struktur ekonomi daerah. Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Imlek turut mendorong aktivitas perdagangan, transportasi, jasa, hingga UMKM, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Sementara dari sisi produksi, sektor pertambangan tumbuh signifikan sebesar 34,14 persen dan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Kalbar. Kinerja tersebut didukung pengembangan industri pengolahan bauksit dan alumina di kawasan Mempawah sebagai bagian dari strategi hilirisasi industri.
Menurut Ria Norsan, hilirisasi penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Selain itu, optimalisasi Pelabuhan Kijing dinilai akan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi Kalbar melalui efisiensi distribusi barang, peningkatan ekspor, serta daya tarik investasi baru.
“Dengan Pelabuhan Kijing yang semakin optimal, distribusi dan ekspor menjadi lebih efisien sehingga daya saing industri meningkat,” katanya.
Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan menambahkan, selama ini sebagian ekspor komoditas unggulan Kalbar masih tercatat melalui pelabuhan di provinsi lain, sehingga manfaat fiskal dan pencatatan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan daerah.
Optimalisasi Pelabuhan Kijing diharapkan mampu memperkuat posisi Kalbar dalam rantai perdagangan nasional dan internasional, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.
Kontribusi ekonomi Kalbar terhadap perekonomian regional Kalimantan tercatat sebesar 17,61 persen, meningkat dibandingkan Triwulan I 2025 yang tumbuh 5,00 persen dan Triwulan IV 2025 sebesar 5,62 persen.
Di sisi lain, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Kalbar terus menjaga stabilitas inflasi pada kisaran target 2,5±1 persen guna mempertahankan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah.
Ria Norsan menegaskan, pertumbuhan ekonomi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pembangunan yang inklusif, pemerataan infrastruktur, penguatan UMKM, pendidikan, kesehatan, dan sektor pertanian.
“Ini menjadi momentum baik bagi Kalbar untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.